
IDN - Hujan deras yang terjadi di Kabupaten Blitar, Senin (18/1/2016) siang, membawa korban.
Dua orang tewas akibat disambar petir, sedang empat temannya selamat.
Korban tewas adalah Zainal Abidin (33), warga Kelurahan Pandanarum, Kecamatan Sutojayan, dan Supriono (32), warga Kelurahan Sukorejo, Kecamatan Sutojayan. Keduanya terluka pada kepalanya akibat disambar petir.
"Saat kejadian itu, mereka (berenam) duduk berhadapan karena lagi berteduh," kata AKP Sukadi, Kapolsek Sutojayan.
Sedang korban selamat, adalah Susilo (33), Juned (32), Jarwo (32), dan Nur Rahmat (33), keempatnya warga Kelurahan Sukorejo, Kecamatan Sutojayan.
"Meski keenam korban itu duduk berkumpul, namun yang empat selamat. Bahkan, mereka tak terluka sama sekali," tutur Sukadi.
Ceritanya, siang itu keenam korban itu sedang memancing bersama di Kali Sadrakan, di Desa Gondanglegi, Kecamatan Sutojayan, atau tepatnya, di belakang sekolahan SDN 03 Sutojayan.
Mereka berangkat dari rumah sejak pukul 10.00 WIB, dengan berboncengan sepeda motor. Tiba di lokasi, mereka langsung memancing, dengan posisi bersebelahan.
Namun saat asyik memancing itu, tiba-tiba turun hujan deras dengan disertai petir. Itu terjadi sekitar dua jam setengah, setelah mereka melemparkan pancingnya ke kali tersebut.
Akhirnya, mereka berteduh di punden atau makam yang dikeramatkan warga desa itu. Lokasinya di tepi kali. Punden itu hanya berisi satu kuburan.
Menurut warga, punden itu biasa dipakai berteduh warga bila kehujanan di sawah. Karena itu di makam tersebut dibuatkan bangunan beratap genting dan berlantai keramik. Hanya, lokasinya terbuka karena tak ada pohon tinggi di sekitarnya.
"Selama hujan itu, keenam korban berteduh jadi satu di punden itu. Cuma, hujan siang itu cukup
deras, dengan disertai petir berkali-kali," papar Sukadi.
Sekitar 20 menit berteduh di dalam punden itu, terjadi petir yang cukup keras. Bersamaan itu, keenam korban terpental keluar.
Namun demikian, bangunan punden itu tak mengalami kerusakan apapun. Begitu terpental, dua korban yang tewas itu langsung tak bangun.
Mereka tersungkur di sawah, yang berjarak sekitar 2 meter, dari lokasi duduknya.
"Posisi duduk keenam korban berhadap-hadapan. Yakni, kedua korban yang meninggal dunia itu menghadap ke utara. Sementara, keempat yang selamat itu menghadap ke selatan," ungkapnya.
Melihat dua temannya tak bangun, empat rekannya kaget dan berusaha menolongnya karena dikira sedang pingsan. Namun begitu dibangunkan dan dua korban tetap diam, empat temannya itu ketakutan.
Akhirnya, mereka memberi tahu ke warga, kalau dua temannya tersambar petir.
Untuk korban tewas dibawa ke RSU Auliyah, Kecamatan Sutojayan. Sementara, empat korban selamat langsung pulang. Sebab, dicari ke rumah sakit dan Polsek Sutojayan, tak ditemukan.
"Mereka belum kami mintai keterangan karena sepertinya masih trauma. Selain itu, mereka supaya ganti pakaiannya dulu karena basah dan kotor akibat terkena lumpur," papar Sukadi.
Umiyati (28), istri Zainal Abidin, korban tewas, menuturkan, selama ini suaminya memang suka memancing. Selain hobi, juga mencari ikan buat lauk sendiri.
"Tadi pagi, ia pamit kalau akan memancing. Ia berangkat dari rumah pukul 09.30 WIB. Namun karena kesukaannya memancing, saya tak melarangnya," paparnya.
Umiyati mengaku mendapat kabar atas musibah itu sekitar pukul 14.00 WIB. Itu diberi tahu tetangganya. Namun, tak dibilangi kalau suaminya telah tiada. Hanya ia dibilangi kalau suaminya lagi berada di rumah sakit.
"Sesampai di rumah sakit, saya kaget karena suami saya sudah tiada," papar ibu dua anak ditemui di RSU Auliyah.